RSS

Tumbuh Kembang Anak : Bila Kaki Anak Bermasalah

18 Mar

Fahrezi berusia 3 tahun ketika kedua orang tuanya menyadari lutut kiri Fahrezi membengkok saat berdiri (tampak pada foto: tungkai bawah sisi kiri bengkok). Keadaan ini dikenal sebagai “genu valgum” pada anak usia 2 hinggga 6 tahun, bengkok ringan hingga sedang pada kedua kaki masih termasuk wajar. Bila sangat ekstrim, anak akan berjalan “aneh”, dan kedua lutut bertemu (knock knee). Bisa juga si anak akan berjalan dengan kaki diputar ke arah luar agar kedua lutut tidak bertemu.

Anak mudah lelah, telapak kaki cenderung terbuka ke sisi luar (pronasi), mengeluh nyeri pada betis dan paha depan. Teraba tempurung lutut lebih ke arah sisi luar. Cenderung obese karena anak dengan keluhan demikian menjadi malas bergerak. Sembilan puluh lima persen anak dengan knock knee akan sembuh sendiri (yang tidak ada gangguan pada fungsi berjalan), sisanya memerlukan bantuan (antara lain) sepatu koreksi.

Pada Fahrezi, kemungkinan akan sembuh lebih besar. Tidak ada rasa sakit, tidak terjadi hambatan pada fungsi berjalan. Saya dapati otot sisi samping paha kiri tidak sekuat yang kanan. Program : pengurangan aktivitas menopang badan (yang dilakukannya sendiri dengan minta digendong) dan latihan di air. Pada saat kunjungan dua minggu kemudian, kemiringan kaki Fahrezi berkurang. Saya masih meminta ibu Fahrezi, berkunjung berkala tiap dua minggu.

Catatan : Genu valgus, sering disebut knock-knee, suatu keadaan lutut bersentuhan saat kedua tungkai diluruskan. Yang dimaksudkan dengan kaki di sini bukan feet/ foot, namun seluruh tungkai dan kaki. Bila mendapati anak berjalan tidak wajar, segera konsultasi dengan dokter keluarga, spesialis anak, ataupun spesialis rehabilitasi medik.

LEBIH JELAS TENTANG KELAINAN KAKI PADA ANAK

Tugas kaki memang tidak ringan. Selama pemiliknya terjaga, mereka harus menanggung beban tubuh. Kaki yang kurang baik tentu tidak dapat menjalankan tugas dengan baik. Maka, sejak anak dalam masa pertumbuhan, kakinya harus cukup mendapat perhatian.
Terjatuh ketika sedang berjalan itu biasa pada anak-anak. Tetapi kalau diembel-embeli kata “sering”, pasti ada apa-apanya. Seperti dialami seorang bocah perempuan berusia lima tahun yang ditemui di Jakarta ini. Menurut pengamatan ibunya, selain sering terjatuh sewaktu berjalan, anaknya suka mengeluh kakinya terasa pegal kalau malam. Maka, dibawalah dia ke tukang pijat. Sembuh? Sayangnya, tidak. Keluhan masih tetap ada. Setelah dibawa ke klinik rehabilitasi medik, barulah ketahuan masalah sebenarnya. Kata dokter, rasa pegalnya mungkin akibat tungkai si anak kurang sempurna, yaitu cenderung membentuk huruf “X” atau sering juga disebut knock knees (istilah tungkai sebetulnya untuk menyebut kaki secara keseluruhan, mulai dari pangkal paha hingga telapak kaki).

Karena bentuk tungkai yang demikian, maka terjadi gerakan berlebihan pada kedua sendi lutut bagian dalam. Ini yang bikin kaki terasa pegal-pegal. Lebih jauh, bila kelainan tungkai “X” itu tidak segera ditangani sehingga menetap, bisa mengundang masalah. Umpama saja, kelak si anak tampak kikuk saat berjalan, sering atau mudah terjatuh, bahkan menjadi malas beraktivitas atau takut berolahraga. Tak kalah penting, kelainan itu tentu mengganggu penampilan.

Itu satu contoh. Masih ada beberapa jenis kelainan lain berkaitan dengan bentuk tungkai maupun bagiannya. Misalnya, tungaki “O” (bow legs). Telapak kaki rata (flat feet), berjalan jinjit, yang sebenarnya bisa dicegah dan diatasi sejak dini.

Menurut dr. Meidy Triangto, Sp.RM, spesialis rehabilitasi medik, kelainan tungkai pada anak bisa terjadi antara lain karena posisi janin dalam rahim maupun pola kebiasaan sikap tubuh dalam kehidupan sehari-hari si anak. Janin berumur lanjut yang berada dalam rahim sempit, kemungkinan akan mengalami pelengkungan tungkai. Akibatnya, putaran dan sudut kemiringan pada tulang panjang tidak vertikal dan akan membentuk tungkai janin berbentuk huruf “0″.

Kelainan tungkai “0″ – posisi kedua tumit saling mendekat, sementara lutut saling menjauh – cenderung terjadi pada anak laki-laki, sedangkan bentuk “X” pada anak perempuan. Perbedaan itu dikarenakan kondisi pertumbuhan bentuk panggul anak perempuan yang akan lebih besar daripada anak laki-laki.

Pemakaian popok (diapers) bisa pula menjadi penyebab kelainan bentuk tungkai kaki. Fungsi popok dengan berbagai kualitas dan merek itu memang membantu menghindari kerepotan bila anak ngompol. Namun, kalau terlalu lebar ukurannya dan terlalu lama pemakaiannya, kaki si anak menjadi sulit merapat dengan baik, sehingga tumpuan berat badannya berubah. Apalagi umumnya popok banyak dipakai pada saat anak mulai belajar berjalan. Untuk menghindari dampak negatif popok, dr. Meidy menganjurkan pemakaian popok sekali-kali atau sewaktu tidur saja.

“Posisi menggendong anak juga perlu diperhatikan,” sarannya. Hendaknya, anak digendong dengan posisi tungkai dirapatkan, tidak terpisah (istilah Jawanya dicengklak) supaya tungkai kaki tidak tumbuh “X”. Tidur dengan posisi tengkurap seperti kodok juga tidak disarankan, karena dapat mengarahkan tungkai ke bentuk “0″.

Penggunaan baby walker sebagai alat bantu jalan pun, kata dr. Meidy, hanya bila anak betul-betul sudah kuat berdiri, yakni sekitar usia 8 -10 bulan. Pasalnya, bila alat bantu ini terlalu pendek buat si anak, justru akan membuat tungkai kaki cenderung bengkok atau berbentuk “0″. Sebaliknya, kalau terlalu tinggi, anak cenderung berjalan dengan posisi jinjit. Ia menganjurkan, akan lebih baik kalau anak tidak ditatih dengan baby walker. Tetapi bisa diganti dengan selendang yang diikatkan pada badannya, atau dengan memegang bagian bawah ketiaknya.

Tungkai kaki berbentuk “X” bisa pula akibat kebiasaan duduk dengan posisi kaki dilipat ke arah samping, ke kiri dan kanan, sementara kedua lutut mengarah ke depan. Posisi demikian memang sangat digemari anak saat menonton televisi atau sedang bermain santai di lantai. Karena itu, kelainan ini dikenal pula sebagai television position. Posisi itu dimungkinkan lantaran ligamen atau ban-ban sendi anak masih begitu lentur, sehingga dengan mudah dapat diarahkan.

Walaupun masih pro dan kontra, “Kalau mau belajar tari balet, sebaiknya setelah anak berusia enam tahun ketika pembentukan tulang kaki sudah lebih kukuh,” kata dr. Meidy. Para ahli khawatir, gerakan balet menghambat putaran sudut inklinasi tulang paha sehingga kedua kaki akan mengarah ke luar.

Sebaliknya, pada kasus tertentu bila keadaan putaran sudut inklinasi mengarah ke belakang hingga telapak kaki cenderung ke arah dalam, balet justru diperlukan sebagai salah satu bentuk terapi.

Berjalan Jinjit

· Selain tungkai “X” dan “O” kelainan lain yang sering mengganggu yaitu telapak kaki rata. Bila seorang anak sampai usia di atas dua tahun belum juga kuat berjalan lama, bisa jadi karena telapak kakinya rata.

“Sebenarnya, semua bayi lahir dengan kaki datar,” ungkap dr. Meidy. “Tapi dengan bertambahnya usia, seharusnya semakin lama semakin terbentuk arkus atau lengkungannya.” Pada usia tiga tahun seharusnya bentuk telapak kaki sudah lebih baik, tapi adakalanya pada anak tertentu tidak demikian karena faktor bawaan atau keturunan.

Menurut alumnus Fakultas Kedokteran UI ini, ligamen (jaringan ikat) yang mengikat tulang-tulang pada telapak kaki rata tidak cukup kaku dan kuat untuk mempertahankan posisi tulang telapak kaki yang seharusnya melengkung ke atas. Telapak kaki rata, bila tidak dikoreksi sejak dini, dikhawatirkan bisa menyebabkan gangguan pada tulang belakang akibat perubahan titik berat tubuh.

Telapak kaki dengan lengkungan normal memang lebih kuat, karena titik berat tubuh jatuh pada posisi yang sebenarnya. Namun, jangan pesimistis karena telapak kaki datar, menurut dr. Meidy, justru lebih diperlukan bagi atlet tertentu seperti karate atau taekwondo. Dengan telapak seperti itu posisi kuda-kuda menjadi lebih kuat. Namun, tidak demikian bagi atlet yang lebih banyak menuntut aktivitas berjalan atau berlari.

Yang juga perlu mendapat perhatian apabila seorang anak berjalan menggunakan jari-jari kakinya saja atau berjinjit. Keadaan ini terjadi lantaran tendon achilles-nya (yang berhubungan dengan tumit – Red.) pendek. Sebaliknya, anak yang terus berjalan jinjit bisa menyebabkan tendon achilles-nya memendek.

Anak yang berjalan jinjit bisa pula lantaran menderita cerebral palsy, salah satu bentuk kelainan yang berhubungan dengan fungsi otak. Pada cerebral palsy terjadi peningkatan tonus otot sehingga otot menjadi kaku. Karena itu, bila anak terus berjalan jinjit, menurut dr. Meidy, seharusnya mendapat perhatian, terutama apakah kelainannya semata-mata ada di kaki ataukah berhubungan dengan fungsi otak.

Latihan Meniti

· Untuk mengetahui hal itu, ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan. Antara lain mengukur panjang kaki bagian atas dan bawah, kelengkungan paha dan tungkai, jarak antarsatu kaki dengan lainnya, mencetak serta memindai telapak kaki.

Pertumbuhan kaki anak dapat diperiksa sejak berusia 1,5 tahun, yakni masa mereka mulai belajar berjalan. Kelainan sudut angular deformities lutut pada masa tumbuh kembang anak umumnya menjadi perhatian sekaligus kekhawatiran para orangtua karena dapat mengganggu segi kosmetik (estetik), fungsi, maupun psikologis si anak.

Pada saat dilahirkan, anak memang memiliki struktur tungkai dan kaki yang belum mencapai fungsi bipedal (fungsi dua kaki) yang ideal. Proporsi tungkai relatif pendek

dibandingkan dengan total panjang tubuh. Selanjutnya, terjadi perubahan serta perkembangan ukuran, bentuk, dan fungsi tungkai. Proses itu memang sangat kompleks. Ada yang tumbuh normal, ada pula yang kurang normal -meski tidak berarti cacat.

Jika dari hasil pemeriksaan dan observasi perkembangan sudut lutut seorang anak memang tumbuh sesuai variasi normal sudut lutut, maka diharapkan perkembangan selanjutnya akan ke arah normal. Sebaliknya, bila ukuran sudut lutut tidak sesuai dengan nilai normal, anak perlu mendapat program rehabilitasi medis.

Telapak kaki merupakan cerminan kelainan bentuk tungkai, karena itu program rehabilitasi dimulai dengan mencetak telapak kaki untuk meneliti serta mengoreksi kemiringan sudut-sudut tungkai mencapai pola normal. Selanjutnya, terapi diberikan. Semakin dini, semakin mudah koreksi dilakukan. “Bagi mereka yang memiliki telapak datar, dicegah agar tulang telapak tidak sampai menonjol keluar. Kalau kondisi demikian sampai terjadi, terapinya menjadi lebih sulit,” tambah dr. Meidy.

Banyak anak gemuk mempunyai kelainan telapak kaki rata. Untuk kelompok ini, selain mendapatkan terapi kaki, biasanya disarankan pula untuk menurunkan bobot badan. Tujuannya, agar tidak semakin membebani kaki.

Pada sebuah kasus ringan, seorang anak cukup mendapat latihan gaya berjalan (gait training), latihan peregangan yang sesuai dengan kelainannya.

Ia diajak berjalan di atas permukaan kasar seperti di pasir pantai atau dilatih berjalan di atas karpet kasar mengikuti arah berupa gambar-gambar telapak kaki. Selama berlatih, posisi pinggul pun turut diperhatikan, jangan sampai mengikuti arah kaki. Dengan mengikuti arah gambar telapak kaki itu, diharapkan gaya berjalan akan lebih benar dan otot akan semakin kuat.

Ada pula latihan gaya berjalan di atas titian kayu. Si anak diminta berjalan dengan tapak lurus di atas titian itu. Latihan lain, berjongkok dengan posisi kedua kaki lurus ke depan. Pada pasien tertentu latihan juga dilengkapi dengan terapi sinar, agar kelenturan yang diharapkan dapat lebib cepat.

Pada kasus lebih berat, selain mendapatkan latihan-latihan itu, penderita diminta pula untuk menggunakan insole atau sol sepatu yang dipasang di bagian dalam sepatu anak. Untuk itu, sepatu model kets yang dikenakan harus satu nomor lebih besar dan ukuran semestinya agar sol mudah dimasukkan. “Jangka waktu pemakaian sol bisa satu sampai dua tahun, tergantung berat-ringannya kelainan,” kata dr. Meidy.

Masa satu-dua tahun bisa dianggap lama, bisa pula singkat. Tergantung pada cara kita melihatnya. Bagaimana bila masa itu dikaitkan dengan masa rehabilitasi yang berkaitan dengan proses tumbuh kembang dan masa depan mereka? Demi anak-anak, rasanya kita mau memberikan yang terbaik bukan? (Intisari)

Lutut Anak Bengkok, Telapak Rata

dr Andi, anak perempuan saya berusia 3 tahun. Pada saat berdiri dan berjalan, saya perhatikan dari depan, lututnya tampak bengkok dan tidak lurus. Selain itu telapak kakinya tampak rata.
Biasanya saya lihat di telapak kaki anak lain, ada lengkungan di telapak kaki. Di pergelangan kaki, saya juga membengkok sehingga tampak ada sudut antara tungkai bawah dan telapak kaki.
Anak saya bisa berjalan sejak usia 19 bulan, memang agak terlambat dibandingkan anak lain seusianya. Saya takut kalau lututnya dan pergelangan kakinya tambah bengkok dan membuat buruk penampilan, serta timbul kelemahan pada kaki. Saya pernah lihat anak memakai alas sepatu khusus buatan dokter/rumah sakit. Bagaimana solusinya untuk anak saya agar lututnya tidak bengkok? Terimakasih dr Andi.
Ny Vero di Jepara.

Jawaban dr Andi
Yth Bu Vero, tampaknya anak perempuan ibu mengalami flat foot/pes planus atau telapak kaki rata, dan juga lutut bengkok yang dalam bahasa medisnya  genu valgum atau lutut yang membengkok ke dalam, sehingga kedua lutut membentuk huruf X (sering disebut juga knock-knees).
Kedua hal ini memang sering terjadi pada balita. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi dan bisa bertumbuh dengan normal. Namun  pada sebagian kecil anak, bisa berkembang lebih parah dan menimbulkan masalah dalam berjalan. Juga  masalah estetika/ keindahan tubuh.
Telapak Kaki Rata
Flat foot merupakan kondisi medis di mana jika  dilihat dari sisi dalam,  lengkungan kaki menjadi rata. Seluruh telapak kaki bersentuhan dengan permukaan tanah. Flat foot ini terjadi pada sekitar 20 persen anak.
Bisa terjadi pada satu kaki atau kedua-duanya. Pada bayi, hal ini umum terjadi. Sebab lemak bayi yang terkumpul menutupi lengkungan telapak kaki. Dengan bertambahnya umur, lengkungan kaki ini muncul sebagai hasil pertumbuhan otot kaki, tendon, ligamentum dan tulang kaki. Pada usia 3 tahun, mulai terbentuk lengkungan, dan pada usia enam tahun lengkungan ini sudah mulai kelihatan nyata.
Bila anak mengeluh nyeri pada betis, tungkai bawah dan telapak, orangtua seyogyanya memeriksa keadaan seluruh tungkai bawah dan telapak.
Biasanya keluhan ini menyertai flat foot ini.
Periksa juga sol bagian bawah sepatu. Pada anak dengan flat foot ini tampak sol yang aus di tempat yang tidak umum atau asimetris, dan tidak sama dengan kaki satunya. Orangtua sebaiknya peka deng-an masalah ini. Ini mencerminkan adanya ketidak simetrisan gerak kedua tungkai saat berjalan.
Juga mohon diperhatikan jejak kaki anak saat berjalan di tanah atau di pantai misalnya. Biasanya jejak kaki anak dengan flat foot lebih luas dan telapaknya hampir menapak keseluruhannya.
Penanganan flat foot  dengan menggunakan sol sepatu bagian dalam yang dimodifikasi secara khusus oleh dokter, biasanya di Bagian Rehabilitasi Medik.
Sol bagian dalam itu diberi ganjal khusus, dengan ukuran tertentu untuk memberikan efek lengkung-an pada telapak kaki.  Selain itu juga diberikan latihan telapak kaki dan penguatan otot betis dan otot telapak kaki.
Lutut Bengkok pada anak
Lutut bengkok  pada anak bisa akibat kelainan tulang bawaan atau sejak kandungan ibunya. Bisa juga akibat kekurangan vitamin D, atau juga kurangnya kalsium dan zat pembentuk tulang lainnya.
Dokter nanti akan memeriksa derajat bengkoknya anak ibu, dan juga memberikan alat khusus (disebut ortotik) yang digunakan pada lutut. Ini berguna untuk menopang lutut dan juga mengembalikan lutut ke bentuknya semula yang simetris dan lurus tegak, tidak membentuk sudut.
Di bagian Rehabilitasi Medik juga akan diberikan latihan untuk memperkuat otot hamstring/ paha depan yang fungsinya menahan lututnya agar tetap lurus.
Dari segi penampilan/ estetika, memang alat-alat tersebut kurang bagus, tapi bila dipakai sejak dini akan mampu mengurangi perjalanan penyakit atau kelainan. Bila ibu kurang jelas bisa menghubungi bagian Rehabilitasi Medik di rumah sakit terdekat.  Semoga putri ibu bisa mendapat pertolongan segera, dan lututnya bisa kembali pada bentuk yang normal.
(*/isk)

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on March 18, 2009 in SEPUTAR ANAK

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: